Sunday, May 19, 2013

Menjadi Seorang Ibu?

Hari ini aku gak bahas tentang kosmetik..
karna saat anakku sakit kemarin sama sekali gak kepikiran pakai make up bahkan skin care..  Sedikit curhat nih...

sore itu, suamiku mengirimkan link via LINE messenger isinya artikel berjudul "Menjadi Seorang Ayah"

aku terharu membacanya, betapa beruntungnya aku mempunyai suami dan ayah anakku sepertinya. Tentu saja suka duka seorang ibu berbeda cerita. Sejak menikah kami tidak ada program khusus untuk mempunyai keturunan, semua kami serahkan kepada Allah SWT.

Sabtu, 20 November 2010 adalah hari pernikahan kami.



Menurut rencana akan ada acara 'unduh mantu' (resepsi keluarga mempelai pria) dua minggu setelahnya, namun seminggu sebelum acara itu aku sakit flu, pusing-pusing, lemas. Sampai acara 'unduh mantu' pun rasanya aku mau pingsan, selalu duduk dipelaminan dengan wajah pucat, mungkin para tamu undangan menyadarinya.

Beberapa hari kemudian mulai terasa mual-mual, tak disangka test pack ternyata Positif. Kaget dan bahagia. Belum terpintas dipikiranku untuk menjadi seorang ibu secepat ini.. pekerjaan yang penuh tekanan dan jarak rumah ke kantor yang jauh menjadi kendala. Lelah sekali bekerja saat hamil, menyetir pula. Apalagi saat proyek pembangunan saluran irigasi selesai, seluruh karyawan memperoleh ultimatum resign atau melamar di PPA ikut training mengenai pelatihan SDM dimana setelah training perlu ke pedesaan. Wueks, makin mual aku mendengarnya...  Akhirnya aku pilih resign demi buah hatiku...

Jujur, setelah resign aku pun menyesal.. harus berhemat sehemat-hematnya, mungkin awal-awal pernikahan yang dimulai dari titik nol harus dijalani dengan sabar. Tak apalah demi anakku.. toh kami tidak kekurangan,aku masih punya tabungan, bisnis kecil-kecilan dari travel, kosmetik hingga jualan tas, dan suamiku bekerja di BRI kan, hehehe

18 Agustus 2011, Tepat pukul 10.30 di hari itu aku menjadi seorang Ibu. Sakitnya melahirkan terbayar dengan cantiknya bayi mungilku, bernama Annisya Permata Zhafira, memiliki arti perempuan yang cantik dan beruntung, sedangkan “Permata” kami sisipkan untuk mengenang almarhumah ibuku yang bernama “Ratu Lies Permata”.





Tentu saja, tidak selalu bahagia menjadi seorang ibu. Awalnya aku sempat stress..
  • Tangisan anakku yang bikin gempa seluruh rumah membuatku pusing. 
  • Berat badan yang naik 20 kilo tak kunjung turun malah naik pula jadi 72kilo,hikhiks.
  • Muka jerawatan ga sempat pakai skin care apalagi make up.
  • Mata zombie, begadang mengikuti ritme tidur bayi, malam bangun pagi tidur, itupun hanya tidur 3-4 jam.
  • Diledek sodara "ndut ndut.. nanti suami cari perempuan lain lho..", "mana enak jadi ibu rumah tangga" "bla bla bla.."
  • Perbedaan pendapat mengenai cara mengurus anak dengan ibuku..
Masalah ini dan itu yang tak kunjung usai..
Hhhm, namun aku selalu mengingat kata-kata suamiku :
"Menjadi figur seorang Ibu tidak bisa dilakukan secara instan,  perlu terus belajar, karena anak pun juga terus menerus tumbuh dan berkembang."

Ya.. seorang ibu harus bisa sabar dan banyak belajar. Seiring dengan berjalannya waktu aku mulai memahami 'indah' nya menjadi seorang ibu. Duka seorang ibu saat merawat anaknya akan mendapat pahala. Belum tentu para wanita karier yang meninggalkan anaknya dirawat orang lain akan di ridhoi Allah SWT.

Sekarang aku bangga menjadi seorang ibu rumah tangga..  karena tugasku langsung ditanda-tangani oleh-NYA.


2 comments:

  1. sabaaar yaa mbaaa, mb usia 26th kan? seusia sm aq , aq jg punya anak cwe tp anak q udah gede, dulu msh perawan BB 45kg sth hamil jd 75kg -_- , stlh lahiran jd 68kg
    skrg anak q udah 7th, BB qu kmbli normal cm nambah dikit jd 46kg ^_^ senangnya jd ibu muda....
    semangat yah bunda...

    ReplyDelete
    Replies
    1. waaahh..senangnya udah balik ke normal lagi BBnya.. anakku masih 2th, berat 57kg. hikhiks

      makasii ya udah mampir ke blok ku :)

      Delete